NEWS, Tidak Dikategorikan

KEGIATAN CBP KPP GEMPOL

Jadilah diri sendiri; Diri orang lain sudah ada yang memiliki.

— Oscar Wilde.

CBP & KPP 
SEJARAH CBP 
LATAR BELAKANG SEJARAH

Corps brigade pembangunan (CBP) Ikatan Pelajar Nahdlatul Ulama  Corps Brigade Pembangunan (CBP) merupakan lembaga yang dibentuk pada  tahun 1963 dalam hal itu di latar belakangi peristiwa persengketaan antara Indonesia dengan Malaysia atau istilah populernya dikenal dengan istilah “ Gayang Malaysia “, peristiwa politik tersebut yang 
berkaitan dengan persengketaan antara Repuplik Indonesia dengan Malaysia memperebutkan daerah Kalimantan Utara (Serawak).


Kondisi riil yang terjadi pada saat 
itu untuk lebih jelas conteks_nya yaitu 
politik luar negeri, terjadi pertentangan 
antara gagasan Presiden Soekarno yang 
anti Emperalisme dengan pihak barat yang 
berupaya menancapkan kukunya diwilayah 
Malaysia. Kemudian Presiden Soekarno 
mengintruksikan kepada elemen bangsa 
untuk segera membentuk Sukarelawan 
Perang dan siap menggayang Malaysia. 
Intruksi Presiden tersebut secara 
lansung membuat seluruh elemen bangsa 
bersiap sedia untuk melawan 
Imperalisme yang akan kembali 
menancapkan kukunya diwilayah Asia 
Tenggara, Asnawi Latif pada waktu itu 
selaku Pimpinan Pusat Ikatan Pelajar 
Nahdlatul Ulama yang merupakan bagian 
dari elemen bangsa merasa terpanggil 
untuk berjuang bersama melawan 
iperalisme dari bangsa barat, yang 
terbentuk dari kalangan pelajar Nahdhiyyin 
yang kemudian dinamakan Sukarelawan 
Pelajar. 
Deklarasi dibentuknya sukarelawan 
Pelajar diadakan di Djogjakarta yang pada 
saat itu merupakan lokasi dari kantor 
pusat PP IPNU, dan di barengi dengan 
parade militer Tentara Nasional 
Indonesia (TNI) yang merupakan wujud 
dari kesiapan RI untuk Menggayang 
Malaysia. 
Sejak saat itulah kemudian 
Sukarelawan Pelajar yang dibentuk oleh 
Asnawi Latif tersebut berjuang demi 
memperjuangkan Negara dan Bangsa 
untuk keutuhan NKRI. Sukarelawan ini 
yang merupakan Embrio atau cikal bakal 
bagi berdirinya Corps Brigade 
Pembangunan (CBP) Ikatan Pelajar 
Nahdlatul Ulama. Yang kemudian 
ditetapkan pada Konferensi Besar IPNU di 
Pekalongan pada tanggal 25 – 31 Oktober 
1964 dengan nama Corps Brigade 
Pembangunan (CBP). Yang kemudian 
dikenal dengan “doktrin Pekalongan” 
Secara etimologi Corps berasal 
dari bahasa Inggris yang memilki arti 
kesatuan dalam komando, Brigade berarti 
pasukan yang disiapkan untuk bertempur 
dan Pembangunan, memiliki arti 
membangun dalam rangka mengisi 
kemerdekaan. Sedangkan secara 
terminologi Corps brigade pembangunan 
berarti suatu lembaga yang dibentuk 
dalam satu komando untuk mengawal 
pembangunan. 
Pada moment tersebut Asnawi 
Latief selaku ketua umum PP IPNU 
menunjuk Rekan Harun Rosyidi untuk 
menjadi Komandan Teknis CBP. Pasca 
ditunjuk sebagai komandan tehnis CBP, 
rekan harun rosyidi mengumpulkan kader- 
kader inti IPNU yang berpotensi untuk 
selanjutnya dididik dan di latih kemiliteran 
serta keamanan guna mengantisipasi 
gerakan yang membahayakan keutuhan 
negara kesatuan republik Indonesia 
(NKRI) baik dari dalam maupun luar. 
Kondisi ini ditempuh karena stabilitas 
politik dan kemanan yang tidak menentu 
pada saat itu. 
Kemudian, pada tahun 1965 saat 
terjadinya peristiwa G 30 S PKI. CBP 
sangat berperan aktif dalam upaya 
memberantas PKI dan antek-anteknya. 
Ghirrah Patriotisme Pelajar tersebut 
setelah terjadinya perubahan rezim dan 
perubahan kondisi sosial politik Indonesia 
semakin surut. CBP menjadi sebuah nama 
yang semakin tenggelam. Hingga 
kemudian masa kepemimpinan Hilmi 
Muhammadiyah Ketua Umum PP IPNU pada 
tahun 1999 CBP dideklarasikan kembali di 
Pondok Pesantren Pancasila Sakti Klaten 
Jawa Tengah. Pendeklarasian kembali ini 
merupakan upaya IPNU untuk bisa 
memberikan kontribusinya secara lebih 
luas pada Ere reformasi yang sedang 
gencar-gencarnya diteriakkan oleh 
masyarakat seluruh Indonesia. 
Kemudian rekan Hilmi Muhammadiyah 
menunjuk rekan Agus Salim untuk menjadi 
Komandan Nasional CBP. Pasca ditunjuk 
sebagai Kornas CBP, rekan Agus Salim 
sangat gencar melakukan sosialisasi ke 
daerah-daerah untuk mengaktifkan 
kembali CBP sampai ketingkatan ranting, 
Hingga memasuki kongres XIII tahun 
2000 di Makasar yang menetapkan rekan 
Abdullah Azwar Anas sebagai Ketua 
Umum IPNU, selanjutnya ditunjuklah 
Rekan Edisyam Risdiyanto komandan 
Nasional. 
Pada masa ini CBP bergerak pada 
empat bidang yakni : Kepanduan, 
Kepalangmerahan, SAR dan Cinta Alam. 
Rekan Edisyam berhasil merumuskan 
kembali pola CBP dengan format baru yang 
terangkum dalam peraturan organisasi/ 
lembaga, penjabaran peraturan 
organisasi/lembaga serta sistem 
pendidikan dan pelatihan sebagai acuan 
dan panduan kegiatan CBP diseluruh 
Indonesia. Rumusan-rumusan tersebut 
dibukukan pada masa itu yang disahkan 
pada masa kepemimpina Al Amin Nur 
Wahab Nasution sebagai Pj Ketua Umum 
IPNU yang menggantikan Rekan Abdullah 
Azwar Anas. 
Perjuangan CBP tidak berhenti 
sampai disitu saja, pada Kongres XIV 
Surabaya tahun 2003 yang menetapkan 
Rekan Mujtahidur Ridlo sebagai Ketua 
Umum IPNU, melanjutkan program CBP 
sebelumnya dibawah komando Rekan Ali 
Masdar Hasibuan. 
Pada masa ini lebih banyak 
difokuskan pada praktek terjun 
kelapangan terutama bidang SAR dan 
kepalang merahan, disebabkan seringnya 
terjadi bencana skala nasional misalnya 
terjadinya Tsunami di Aceh, Tanah 
Longsor di Banjar Negara, Banjir bandang 
di Jember, Gempa Jateng-Jogja, Gempa 
dan Tsunami di Pengandaran Jawa Barat. 
Pada periode ini pula CBP yang bergerak di 
empat bidang yakni : Kepanduan, 
Kepalangmerahan, SAR dan Cinta Alam 
difokuskan menjadi 3 bidang yakni : 
Kemanusiaan, Lingkungan Hidup dan 
Kedisiplinan yang ditetapkan dalam 
Rakornas CBP pada 6 – 8 Januari 2006 
bertempat di Wisma Depag Jakarta 
Selatan. Program ini berlanjut hingga 
Kongres IPNU XV di Asrama haji Pondok 
Gede Jakarta, 9 – 12 Juli 2006 yang 
menetapkan Rekan Idy Muzayyad sebagai 
ketua umum IPNU dan selanjutnya 
menunjuk Rekan Alvin M Hasanil Haq 
sebagai Komandan Nasional. 
Pada masa ini banyak hal yang 
dilakukan dalam rangka memajukan dan 
mengembangkan potensi kader-kader CBP 
diantaranya : Kemah Pelajar Hijau dalam 
Rangka Diklat Peduli Lingkungan 6 – 8 April 
2007 di Ponpes Wali Songo Gomang 
Singgahan Tuban, Workshop Ke-CBP-an 17 
– 20 Mei 2007 di Ponpes Maslakul Huda 
pati. Tidak sampai disitu saja CBP juga ikut 
serta dalam berbagai event kemanusiaan 
misalnya pada saat terjadi Banjir Bandang 
di Jakarta. 
Hasil Workshop di Pati 
mengamanatkan CBP untuk 
menyelenggarakan Rakornas yang 
kemudian terselenggara pada 22 – 25 
Agustus 2007 bertempat di Hotel Diamond 
Samarinda bersamaan dengan 
penyelenggaraan Rakernas IPNU. Pada 
Rakornas ini diputusakan beberapa hal 
yang bekaitan dengan Ke-CBP-an 
diantaranya adalah sasaran kegiatan CBP 
yang semula Kemanusiaan, Lingkungan 
Hidup dan Kedisiplinan menjadi 
Kemanusiaan, Lingkungan Hidup dan Bela 
Negara, kemudian juga pada Rakornas 
pada saat itu merubahan nama dari Corps 
Brigade Pembangunan menjadi CORPS 
BARISAN PELAJAR. 
Pada kongres 14 terpilihnya Ahmad 
Syauqi kemudian menunjuk rekan Randi 
Ridwan sebagai KORNAS berikutnya. 
Namun selama 1 th berjalan CBP tidak 
mengalami kemajuan yang signifikan 
akhirnya melalui mekanisme reshufle 
Ahmad Syauqi menunjuk rekan 
Muhammad Syahrial menggantikan Randi 
Ridwan dan pada workshop CBP tanggal 26 
– 28 Juni 2010 di Sidoarjo terjadi beberapa 
perubahan yang signifikan pada tubuh CBP 
yakni : 
1. Perubahan nama CORPS BARISAN 
PELAJAR dikembalikan menjadi 
CORPS BRIGADE PEMBANGUNAN 
2. Mekanisme Lembaga yang 
sebelumnya DEWAN KOORDINASI 
menjadi DEWAN KOMANDO 
3. Peraturan Organisasi dan 
Peraturan Administrasi (PO/PA) 
menjadi Peraturan Lembaga dan 
Administrasi (PLA) yang kemudian 
disahkan pada RAKORNAS 
Peraturan Diklat menjadi Petunjuk 
Pelaksanaan Teknis Operasi 
Pendidikan dan Pelatihan (Juklak 
Tekops Diklat) 
4. Peraturan Dewan Komando 
Nasional tentang Nomor Induk 
Anggota sebagai dasar 
pembuatan Database CBP 
Hasil Workshop sidoarjo dibawa ke 
RAKORNAS Pontianak pada tanggal 29 Juli 
– 2 Agustus 2010. 
————-SEJARAH KPP————- 
Latar Belakang Lahirnya KPP Lembaga Korp 
Pelajar Putri (L-KPP) merupakan lembaga yang 
dibentuk berdasarkan keputusan Konbes I 
IPNU-IPPNU pada tanggal 28 Oktober 1964 di 
Pekalongan-Jawa Tengah. Pada awal 
terbentuknya lembaga ini bernama Corp 
Brigade Pembangunan-wati (CBP-wati) yang 
merupakan wadah bagi pemuda dan pelajar NU 
untuk mengkokohkan barisan dalam 
mengimbangi munculnya berbagai barisan 
yang berkibar dari panji-panji komunis. Dalam 
perjalanannya CBP-wati mengalami stagnasi 
dan selanjutnya diputuskan dalam amanat 
Kongres XII IPPNU di Makasar-Sulawesi Selatan 
dengan perubahan nama menjadi KPP yang 
kemudian untuk mengukuhkannya ditetapkan 
dalam Kongres XIII IPPNU di Surabaya-Jawa 
Timur. 
Visi Mengoptimalkan potensi dan 
meningkatkan kwalitas kader-kader IPPNU. Misi 
Berpartisipasi aktif ikut membangun Negara 
Republik Indonesia dengan mengibarkan panji- 
panji NU disetiap pengabdiannya dalam bidang 
kepanduan, kesehatan, dan sosial 
kemasyarakatan. 
Tujuan Wadah untuk melatih diri, 
memantapkan motivasi dan mengembangkan 
kreatifitas dalam meningkatkan SDM dan 
membangun loyalitas serta mempererat 
hubungan anggota IPPNU (L-KPP) dengan 
lingkungan masyarakat. Bentuk Lembaga Korp 
Pelajar Putri (L-KPP) adalah Lembaga Semi 
Otonom IPPNU. 
Pengertian 
(L-KPP) Lembaga Korp Pelajar Putri (L-KPP) 
merupakan suatu lembaga pengembangan 
SDM dalam bidang lingkungan alam, 
kepanduan, kesehatan, dan sosial 
kemasyarakatan. Lambang (L-KPP) Bentuk 
kuncup bunga warna putih Garis tepi berwarna 
hijau dengan arti kesuburan Bintang sembilan 
berwarna emas yang berarti rohmatal lil alamin 
Bumi berwarna biru berarti kedamaian dan 
semangat yang kuat Buku terbuka mempunyai 
arti belajar tanpa henti Tulisan KPP dengan tinta 
hitam Peta Indonesia warna hijau 
Seragam 
Pakaian Dinas Harian (PDH) 
a. Warna hijau lumut 
b. Baju lengan panjang tanpa manset dengan 
dua saku didepan 
c. Rok panjang dengan bentuk span belah 
tutup 
d. Jilbab berwarna putih segi tiga 
e. Sepatu fantauvel warna hitam 
Pakaian Dinas Lapangan (PDL) 
a. Kaos berwarna biru dongker dengan tulisan 
Korp Kepanduan Putri berwarna putih 
b. Celana berwarna biru dongker dengan dua 
saku disamping dan saku dibelakang 
c. Jilbab kaos berwarna putih 
d. Sepatu kets warna hitam 
e. Topi pet warna gelap 
Administrasi 
Dalam pelaksanaan administrasi KPP yang 
meliputi penggunaan stempel dan surat terpisah 
dengan IPPNU dengan ketetuan sebagai 
berikut : 
1. Surat keluar bersifat internal maupun 
eksternal KPP harus diketahui oleh pimpinan 
IPPNU berdasar tingkatannya. 
2. Penomoran surat mengikuti bentuk dan 
penomoran sebagaimana di IPPNU, hanya 
singkatan IPPNU diganti dengan KPP. 
Adapun untuk kelengkapan administrasi KPP 
maka disetiap jenjang harus dilengkapi : 
1. Kop surat 
a. Jenis kertas HVS ukuran folio warna putih 
b. Pada posisi 3 cm dari atas tertulis identitas 
organisasi dengan perincian sebagai berikut : 
1. Lambang KPP dikiri atas 
2. Tingkatan jajaran koordinasi 
3. Tulisan Korp Pelajar Putri 
4. Tulisan IPPNU 
5. Alamat sekretariat 
2. Amplop 
a. Bentuk dan ukuran sama dengan IPPNU 
b. Jenis kertas berwarna putih sesuai dengan 
standar yang layak dan tercantum identitas 
organisasi persis seperti yang tercantum dalam 
kop surat 
3. Stempel Bentuk dan ukuran sama dengan 
IPPNU Tingkatan (L-KPP) 
1. Dewan Koordinasi Nasional (DKN) untuk 
tingkat Pusat 
2. Dewan Koordinasi Wilayah (DKW) untuk 
tingkat Wilayah 
3. Dewan Koordinasi Cabang (DKC) untuk 
tingkat Cabang 
4. Dewan Koordinasi Anak Cabang (DKAC) 
untuk tingkat Anak Cabang 
5. Regu Korp Pelajar Putri (Regu-KPP) untuk 
KPP tingkat Ranting, dan Komisariat Perguruan 
Tinggi Mars KKP Derap Langkah Satukan Cita 
Kembang Sayap Rengkuh Sesama Bina Putri 
Setia Kuat Jiwa Sehat Raga Teguh Janji 
Wujudkan Visi Bulat Tekad Raih Harapan Ayun 
Langkah Pasti Gemilang Dimasa Depan KPP 
Korp Pelajar Putri Kobarkan Semangat Ideologi 
Jayalah Hai Tunas Pertiwi Turut Membangun 
Negeri.